Kong Cu Dharma Semadhi
Informasi Lokasi
Kabupaten
Kabupaten Bangli
Kecamatan
Kintamani
Alamat Lengkap
Banjar Kembangsari, Desa Satra, Kecamatan Kintamani
Koordinat (Lat, Long)
Informasi Umum
Ketua
I Putu Sutama
Tanggal Terdaftar
18 Apr 2023
Keterangan
Keberadaan Kong Cu Dharma Semadhi tidak lepas dari peradaban di masa lalu, termasuk di dalamnya sejarah tentang peradaban Tionghoa dan Buddha. Salah satu sumber penulisan sejarah kuna adalah prasasti dan naskah (Boechari, 1977:15) . Di Bali sendiri, sampai dengan 2013, sudah tercatat 251 kelompok (cakep) prasasti yang tersebar di semua Kabupaten/Kota di Bali. Temuan terbanyak ada di Kabupaten Bangli, diikuti Buleleng, Gianyar, Tabanan, dan Kabupaten lainnya. Untuk temuan prasasti yang ada di Kabupaten Bangli, salah satu temuan Prasasti yang populer adalah Prasasti Sukawana, yang ada di Pura Bale Agung Sukawana, Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani. Prasasti Sukawana terdiri dari 5 cakep (A I, AII, B, C, D) yang terdiri dari 21 lembar. Empat cakep (AI, AII, B, C) memuat hak dan kewajiban masyarakat di Cintamani, dan satu cakep (D) berkaitan langsung dan memuat hak dan kewajiban, serta batas-batas wilayah desa Sikawana. 1. Dari Prasasti Sukawana AI (804 Saka/882 Masehi) beraksara Jawa Kuna yang dikeluarkan di Panglapuan Singhamandawa, pada bulan Magha tanggal 1 paro terang, bertepatan dengan hari pasaran di Wijayapura pada tahun 804 Saka (882 Masehi) (turun di panglapuan di singhamandawa di bulan magha cukla pratipada, rggas pasar wijayapura di saka 804 kilagina di puttagin ajna); disebutkan tentang perintah raja kepada para pejabat, untuk membangun tempat suci (pircintayangku man tua ulun) di daerah perbukitan Cintamani (di bukit cintamani mmal); khususnya Raja menyuruh Senapati Danda (Kumpi Mardaya) dan 3 Bhiksu (Siwakangsitan, Siwanirmala, Siwaprajna) (syuruhku senapati danda kumpi marodaya me bhiksu ciwakangcita, ciwanirmmala, ciwaprajna) untuk membangun pertapaan yang dilengkapi pesangrahan (bangunen partapanan satra). Keberadaan pertapaan ini ditentukan dengan jelas pada keempat arah mata angin. Tingkad bagian barat, Puphuhan bagian utara, Rua bagian timur, sampai Tukad Ye bagian selatan (hangga tingkad karuh, hangga puhpuhan kadya, angga rua kangin, hangga tukad ye kalod). 2. Pada Prasasti Sukawana AII (976 Saka/1054 Masehi) beraksara Jawa Kuna, yang dikeluarkan Raja Anak Wungsu pada 976 Saka (1054 Masehi) bulan Srawana hari kedua paroh gelap, Tungleh, Pahing Radite, Wuku Sinta) (muwah ing caka 976 crawanamasa tithi dwitiya krsnapaksa, tu, pa, ra, wara sinta), ada disebut rohaniwan agama Buddha dengan sebutan Mpungku Sewasogata, Mpungkwing Jalatirta (Dang Acaryya Karanaikeswara), Samgat Mangirenngiren Wandamai (Purnnabhajra), Samgat Juru Wadwa (Dang Acaryya Nityaasraya), Samgat Caksu Karanakranta (Taman) terutama Mpungkwing Kanya Dang Acaryya Mungindra, Mpungkwing Suryyamandala Dang Acaryya Mahananda. 3. Pada Prasasti Sukawana B (1103 Saka/1181 Masehi) beraksara Jawa Kuna, yang ditetapkan Raja Jayapangus yang bergelar Pāduka Śri Māhāraja Aji Jayapangus Arkaja Cihna/Lañcana, beserta kedua permaisuri beliau paduka Bhatari Sri Parameswari Indujalancana dan paduka Sri Mahadewi Sasangkajaketana; pada 1103 Saka (1181 Masehi) bulan Srawana hari kesembilan suklapaksa Maulu, Pahing, Rabu, Wuku Wayang (ing saka 1103 crawanamasa, tithi nawami cuklapaksa, ma, pa, bu, wara wayangwayang, irika diwaca, ajna paduka cri maharaja haji jayapangus arkaja cihna saha rajapatni dwaja, paduka cri paramecwari indujalancana, paduka cri mahadewi cacangkajaketana); ada disebutkan rohaniwan agama Buddha dengan sebutan Pandita Siwa Sogata (tlas sinaksyaken i sanmukha tanda rakryan ri pakirakiran i jro makabaihan makadi para Senapati, karyhun mpungku cewasogata). Beliau Pendeta Sogata (sireng kasogatan) yaitu : Mpungku di Kadikaran (Dang Upadhyaya Sarwwa Tharja), Mpungku di Kutihanyar (Dang Upadhayaya Antaraga), Mpungku di Bajasikara (Dang Upadhyaya Rarai Jawa), Samgat Magirenngiren wandami (Mangcpriya). Prasasti Sukawan B sepertinya menjadi puncak dari peradaban Tionghoa dan Buddha berkat pernikahan Raja dengan Putri China yang dijadikan permaisurinya. 4. Pada Prasasti Sukawana D (1222 Saka / 1300 Masehi) beraksara Jawa Kuna, yang dikeluarkan oleh Raja Patih Kbo Parud pada tahun 1222 Saka (1300 Masehi) pada bulan Kartika, hari kelima belas paroh terang, Wurukung, Kaliwon, Sukra, hari baik di Wuku Sungsang (Swasti sakawarsatita, 1222, masa kartika, tithi panchajasi suklapaksa, wu, ka, su, wara ning julung sungsang); ada disebut Rohaniwan Buddha dengan sebutan Ida di Kasogatan (Ida di Kasogatan), yaitu : Pandeta Burwan, Pandeta Kadikaran, Pandeta Purwanagara, Pandeta Kutri Hanyar, Pandeta Aji Nagara Jadi, menurut Prasasti Sukawana, genealogi peradaban Tionghoa dan Buddha di Kintamani sebagai berikut : 1. Pada Prasasti Sukawan A1 disebutkan ada 3 Bhiksu (Siwakangsitan, Siwanirmala, Siwaprajna) yang diperintah secara khusus oleh raja untuk membangun tempat suci (pircintayangku man tua ulun) di daerah perbukitan Cintamani (di bukit cintamani mmal), yaitu pembangunan pertapaan yang dilengkapi pesangrahan (bangunen partapanan satra). Kata “Satra” ini menjadi asal-usul Desa Satra, yang terdiri dari beberapa wilayah termasuk Banjar Kembangsari. Dan nama “Cintamani” sendiri, dalam agama Buddha mengingatkan kita kepada “Cintamani Cakravartin Dharani” yang terdapat dalam “Maha-padma-vajra-samaya-adhisthana-guhya-na-abavarana-sutra”. 2. Di dalam Prasasti Sukawana AII (976 Saka/1054 M), Prasasti Sukawana B (1103 Saka/1181 M), Prasasti Sukawana D (1222/1300 M) disebut para Pemuka Agama Buddha bergelar “Mpungku Sogata, Sireng Kasogatan, atau Ida di Kasogata” yang ditetapkan sebagai pejabat tinggi kerajaan anggota majelis permusyawaratan kerajaan (tanda rakryan ri pakirakiran i Jro makabehan) bersama para pejabat tinggi (Senapati) dan tokoh masyarakat. Selain sumber sejarah dari prasasti tadi, terdapat sumber “tutur-tinular” dari warga Tionghoa dan kebanyakan masyarakat Bali, bahwa : 1. Keberadaan warga Tionghoa di 4 Desa di Bangli adalah karena ditugaskan oleh Raja untuk menjaga perbatasan Kerajaan Bangli dari serangan Kerajaan sekitarnya. 2. Raja kemudian memberikan “tanah perdikan” untuk ditempati bagi warga Tionghoa. Keberadaan warga Tionghoa di Kembangsari untuk menjaga serangan dari Kerajaan Buleleng di Utara. Keberadaan warga Tionghoa di Lampu untuk menjaga serangan dari Kerajaan Badung di Barat Daya. Keberadaan warga Tionghoa di Lampu untuk menjaga serangan dari Kerajaan Gianyar di Selatan. Dan Keberadaan warga Tionghoa di Kintamani untuk niaga. 3. Bahkan, keberadaan mereka ada yang terdeteksi saat ini menjadi “generasi ke-9” menetap di Bangli.
Jenis RIAB
TITD/ Kelenteng Buddha/ Bio
Jumlah Umat
225 orang
Kondisi Bangunan
Baik
Status Eksisting
Aktif
Tanggal Update
19 Jun 2025
Informasi Kontak
kds.bangli@gmail.com
No Telp
083114209333
Media Sosial
-
Foto Dokumentasi
Informasi Tanah & Bangunan
Status Tanah
Atas Nama Perkumpulan Dharman Semadhi
Sertifikasi Tanah
Sudah
Luas Tanah
3030.00 m²
Luas Bangunan
1000.00 m²
Kondisi Geografis
Pegunungan, Bukit
Peta Rawan Bencana
Tanah Longsor
Fasilitas & Kelengkapan
Statistik & Data Pengelolaan
3
Pengelola RIAB
0
Pengelola Perpus
0
Kitab Suci
100
Buku Agama